Minggu, 06 November 2011

Kemuliaan Akhlaq Mujaddid Abad ini Al Habib Umar bin Hafidz

September 21, 2015

Suatu ketika jama’ah haji Darul Musthofa mengadakan pertemuan khusus bersama Sayyid Salim bin Umar bin Hafidz (putra Guru Mulia Habib Umar), dalam kesempatan tersebut Sayyid Salim bercerita :

“Waktu itu.. ada seseorang yang mengakui tanah milik Sayyidil Walid (Habib Umar bin Hafidz), ia mengatakan tanah itu adalah miliknya, keesokannya, aku datangi orang itu, aku jelaskan kalau tanah ini milik Habib Umar dan surat surat resminya ada ditangan beliau”.

Sayyid Salim memberikan bukti kuat, namun orang tersebut tidak bergeming, dia tetap ngotot tanah tersebut miliknya. Akhirnya dengan terpaksa Sayyid Salim mengadukan hal tersebut kepada Sang ayah Habib Umar bin Hafidz atas permasalahan yang sedang dihadapinya.

”Abah.. si fulan mengakui tanah kita yang berada di daerah sana..”, beliau malah tersenyum lalu berkata :

“Kalau begitu kita ikhlas kan saja tanah itu untuk dia”, Sayyid Salim terheran-heran dan mencoba untuk memastikan

”Tapi bukankah surat-surat resmi tanah itu ada di tangan kita ?”

beliau menjawab :

”Salim.. kita tidak akan berseteru dengan saudara muslim, hanya karena urusan duniawi. Kita tidak akan pernah memperebutkan dunia dengan siapapun, seandainya dia juga mengakui rumah kita ini.. Kita akan ikhlaskan rumah ini untuknya, kita masih memiliki mobil, kita bisa tidur disana”

Demikianlah kedudukan dunia dihadapan seorang waliyullah. Sangat selaras dengan ajaran leluhurnya Al Musthofa SAW

“Seandainya dunia disisi Allah, seekor sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan mengizinkan orang kafir meminum setetes air pun dari dunia ini” (Sayyiduna Rasulullah saw)



October 16, 2015

Di kota Baidha, Yaman utara, selama 11 tahun beliau belajar, mengajar dan menikah di kota itu, setelah menikah beliau tinggal di sebuah rumah kecil dengan 3 ruangan (kamar, dapur ­dan toilet), beliau pun terpaksa ”mengungsi” di dapur ketika teman-teman istrinya datang bertamu, dunia masih enggan bersahabat dengannya

Tahun 1992, Beliau kembali lagi ke kota Tarim bersama istri dan anaknya, karena belum punya tempat tinggal, beliau menumpang di rumah kakaknya AlHabib Ali Masyhur (Mufti Tarim saat ini), anaknya menceritakan keadaan saat itu :

”Kami tinggal dikamar yang sangat sempit, hanya cukup untuk 3 orang, aku, abahku dan ibuku, begitu sempitnya sampai-sampai abahku harus sholat tahajjud di jalan antara kamar dan toilet.. Ketika kami pindah ke rumah baru di kawasan ‘Aidid, aku seakan-akan baru masuk surga..”

Tahun 1994, Beliau mulai memiliki beberapa murid dari Yaman dan Indonesia, setiap selesai sholat subuh beliau harus menyetir mobil dari tarim ke kota Seiwun (sekitar 30 km dari Kota Tarim) guna membeli sarapan pagi untuk murid-muridnya, beliau dan keluarganya seringkali memakan sisa roti atau nasi murid-muridnya, karena dirumahnya tidak dijumpai makanan sama sekali), bahkan di hari raya beliau dan keluarga hanya bisa memakan sebungkus biscuit (padahal semisikin-miskinnya orang sini masih bisa makan daging waktu lebaran), waktu itu, ia hanya berkata pada anak-anaknya :
”Apakah ada yang kurang dari hidup kita meski kita cuma memakan biskuit di hari raya.. ?”

Tahun 2015, ketika banyak mata di dunia tertuju kepadanya, ketika semua bibir berebut mencium tangannya, ketika semua telinga menunggu setiap apa yang keluar dari lisannya, mereka mungkin tidak tahu bahwa beliau dulu adalah seorang anak yatim yang sempat ”diragukan” masa depannya.

Seluruh yang didapatkan Habib Umar saat ini adalah buah dari ketulusan, kesabaran dan keteguhan beliau dalam mengarungi kehidupan.