Minggu, 06 November 2011

Cerita Masa Lalu








Pernah suatu hari ibu ku bercerita tentang masa remajanya. Setiap menjelang subuh hingga pagi hari ibu harus bekerja membantu orang tuanya cuci piring, cuci pakaian, menimba air pergi ke sungai dengan jarak yang cukup jauh mengisi bak mandi hingga penuh setelah itu baru bisa turun ke sekolah.... setelah pulang sekolah membantu orang tua di dapur dll.... semua itu dikerjakan dengan penuh kesabaran.


Ibu ku mengisahkan pernah mengalami peristiwa aneh.... pada likur sepuluh hari akhir Ramadan mendadak kamar ibu ku terang benderang  dan mengira hari sudah siang... ibu bergegas pergi kedapur cuci piring... di sekeliling rumah hari sudah terang ayam dan itik berjalan perlahan, namun ada keganjilan tiap kali ibu ku menimba air mendadak seperti berlumpur, lebih anehnya lagi pohonan dan rerumputan di sekitarnya  sujud seluruhnya menghadap Kiblat...  selanjutnya ibu turun ke sungai menimba air tuk mengisi bak mandi. Keanehan terjadi lagi, air sungai seperti berhenti mengalir tidak bergerak ibu ku lari pulang menuju kamar ibu ketakutan. Orang tuanya terbangun dan menegur kenapa kerjanya malam hari... ibu ku menjawab dari dalam kamar hari sudah siang. Lalu di jawab sama orang tuanya '' apa kamu tidak lihat di sekeliling rumah hari masih gelap gulita ''. ibu kaget mendadak sekeliling kembali gelap gulita..... pada pagi harinya ibu berjalan melihat sekeliling rumah seperti tidak terjadi apa apa... tak lama kemudian lewat seorang nenek yang mengerti agama, ibu ku bertanya kenapa ya semalam semua pepohonan dan rerumputan ini rebah bersujud ke  kiblat dan sekarang tegak berdiri... nenek yang bijak itu berkata '' cucuku, pohon dan rumput disini tidak ada yang rebah semuanya tegak... kemudian berkata lagi '' cucuku... kamu sungguh beruntung telah bertemu malam Lailatul Qodar apakah kamu sempat berdoa meminta sesuatu kepada Allah ??  ibu ku menjawab... saya tidak tahu itu adalah malam Lailatu Qodar saya tidak sempat berdoa.

Di lain waktu saat ibu ku masih hidup pernah bercerita tentang masa lalu saat tinggal di kampung... dulu  kondisi kampung masih hutan belantara jarak antara rumahnya dengan tetangga lainnya cukup jauh dan dibelakang rumah terdapat kuburan muslimin. Aku masih dalam kandungan usia kandungan baru 5 bulan. Keanehan sering terjadi setiap malam kamis dan malam jum'at menjelang subuh ibu ku sering dengar suara Azan, suara orang sholat berjama'ah hingga suara jama'ah zikir  لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ  Ibu ku penasaran tiap masuk waktu subuh suara itu hilang.... ibu pernah bertanya kepada ayah ku dan dia tidak mendengar suara aneh... ibu ku penasaran dan memberanikan diri mencari sumber suara itu....  ibu ku kaget ternyata suara itu datangnya dari belakang rumah kuburan kaum muslimin yang ada di belakang rumah bersinar terang kuburan itu penuh cahaya terang benderang.... Suara Azan, sholat berjama'ah hingga suara Tahlil Zikir itu terus menerus menggema dari dalam kuburan itu. Suara itu terus berlangsung sampai akhirnya aku lahir ke dunia suara itupun hilang tidak pernah terdengar lagi tuk selamanya.

Aku pernah ikut TQN Suryalaya yang mentalqin adalah KH. Muhammad Nur dari Pontianak... ku dengar Pak Wong seorang Pensiunan Polisi dari Sanggau sering ke Suryalaya dan bertemu Abah Anom... tidak lupa ku titip surat tuk disampaikan ke Abah minta do'anya... memang dulu aku pernah bercita cita ingin masuk AKMIL dan tidak tercapai... sebelumnya Pangersa Abah Anom pernah berkata ke Pak wong nanti aku ( Ilham ) kesini Kuliah ke IAILM Suryalaya Tasikmalaya terbukti di kemudian hari aku menimba ilmu disana... ini salah satu Karamah guru Mursyid ku yang istiqamah menjaga wudhunya, lisannya selalu basah dengan Zikrullah bahkan di dinding Madrasahnya tertulis di Larang merokok begitulah ciri Ulama ahli Syari'at dan Haqiqat dan beliau di akui oleh Ulama pada masanya sebagai Malikaz Zaman, Tajul Arifin, Sulthanul Awlia di zamannya....  
Aku ke Suryalaya bersama bibi. Saat itu di Suryalaya lagi ada Manaqiban Jama'ahnya luar biasa banyaknya, ku ikut menyimak pengajian itu hingga usai.... saat mau masuk kulihat seorang kepercaya'an Abah Anom terus memperhatikan ku terus di pintu gerbang Madrasah kemudian bertanya  '' andakah yang namanya Ilham ?? kami menerima perintah dari Abah tuk menunggu dan membawamu ke Madrasah... aku pun menganggukan kepala kemudian ku di bawa menuju madrasah Suryalaya  dan akhirnya aku bisa berjumpa dengan orang yang paling Allah cintai dan di cintai oleh Rasul Saw....

 
  Selesai dari Madrasah Abah Anom bibi membawa ku silaturahmi ke rumah Mama Otin Putrinya Abah Anom.  Tak lama kemudian mama Otin membawa sebuah mangkuk putih berisi nasi putih, tempe, tahu dan kuah sayur pemberian langsung dari Pangersa Abah Anom khusus untuk ku dan perintah langsung dari Abah tuk langsung memakannya.... kuterima pemberian itu terus ku makan...



Waktu berjalan begitu cepat tak terasa saatnya wisuda... Ibu tercinta datang menjemput ku... Saatnya kembali menuju ke kampung halaman Sanggau KalBar.... bersama ibu tersayang menghadap Pangersa Abah Anom pamitan pulang dan mohon doa restu dari Pangersa Abah... terus Abah pun berpesan kepada ibu ku bahwa ilmu yang telah abah berikan agar di kembangkan di kampung halaman.. begitulah pesan guru ku...  sungguh sangat berat buat ku....

Suatu ketika kuterima Ijazah Saifi Hirzul Yamani dari Abah Anom di amalkan selama 40 hari pada saat itu usia ku baru 20 tahun, Amalan Saifi ini umumnya dibaca cukup 1 kali dalam sehari selama 40 hari tidak bersentuhan kulit dengan wanita. Namun kubaca lebih dari 70 kali dalam sehari... begitulah riadhoh itu ku lalui hingga usai... Suatu hari aku silaturahmi ke rumah putra tertua Abah yaitu KH. Dudun Nursaiduddin anehnya tiba-tiba beliau meminta ku mengurangi jumlah hitungan bacaan Saifi Hirzul Yamani... ya cukup di baca 3 kali saja terus beliau melihat tubuhku menyala seperti bara. Alm KH. Dudun Nursaiduddin bercerita dulu pernah ada di Suryalaya seorang ikhwan yang mendapatkan ijazah Saifi Hirzul Yamani dari Abah di amalkan cukup 1 kali saja dalam sehari tetapi dia mencoba membacanya sampai 3 kali mendadak tubuhnya kepanasan dan melompat ke kolam.... kemudian beliau berkata bersyukurlah kepada Allah telah di anugrahi kekuatan fisik...
 

Suatu malam ku bermimpi berenang di tengah samudra yang luas menyelam ke dalam samudera dan mendapatkan mutiaranya. Aneh esok harinya ingin jalan kaki ziarah ke makam wali saat itu baru liburan semester dan langsung mendapat do'a restu dari Pangersa Abah Anom saat itu tahun 2002.

Waktu itu aku bersama Subhan Fajri mahasiswa IAILM dari Cirebon dan Ahmad Zaky dari Losari Brebes diskusi banyak hal di kampus dan Obrolan pun berlanjut kepada kajian tasawuf dan sejarah tasawuf di masa Abah Sepuh. Salah satu mahasiswa berkata : hey kawan... bagaimana kalau kita napak tilas saja, ziarah jalan kaki ke makam Wali Songo sampai ke Madura. tuk mendapatkan barakah. terus sepakat kami bertiga menghadap Abah Anom.

Ketika menghadap Abah Anom beliau diam menunduk tawajjuh, kemudian Abah menunjuk sambil berkata ; kamu ( Subhan Fajri ) riadhoh mandi malam saja selama 40 hari, dan kamu ( Ahmad Zaky ) puasa kifarat selasa, rabu dan kamis, malam jumat melek, dan kamu yang ketiga ( Ilham ) silahkan berangkat napak tilas ..” setelah itu kami pamit dari madrasah dalam kebingungan, apalagi hanya aku seorang di izinkan Abah Anom berangkat sendirian, tidak sesuai dengan rencana awal berangkat

Sambil terus berfikir, kami sepakat saling memotivasi harus menjalankan apa yang di izinkan oleh guru, walaupun sebenarnya berat bagiku karena memang belum pernah ke jawa apalagi ke Madura berjalan seorang diri.... dengan bekal uang hanya Rp. 55.000 Cukup tidak cukup siap dengan segala resikonya... aku dah pasrah...
 

Aku berangkat diam-diam dari Suryalaya jam 5 sore jalan kaki menuju Panjalu ziarah disana kemudian pergi berjalan menuju Cirebon tuk beriarah ke Makam Sunan Gunung Jati kemudian ke Makam Syeikh Tolhah dan mampir di rumah sahabat Subhan Fajri tuk silaturahmi kepada orang tuanya.... kemudian melanjutkan perjalanan ke Brebes bertemu Ahmad Zaky ( yang mendapatkan izin puasa ) Zaky bersikeras ingin juga ikut napak tilas pergi menyusul dari Brebes Jawa tengah dan berjumpa dengan ku disana. Aku agak khawatir karena Zaky tidak di izinkan oleh Abah. 

Sampai ke Demak ziarah ke Makam Sunan Kalijaga kaki Zaky lecet dan mulai bengkak dan akhirnya dia menyerah kembali pulang ke Brebes naik mobil Bis, karena sudah tidak kuat lagi tuk berjalan. Ku berjalan terus menuju Jawa tengah dan Jawa Timur hingga akhirnya sampailah ke Pamekasan Madura. Selain ziarah ke makam wali songo tidak lupa ziarah ke makam para wali lainnya ziarah ke makam Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, makam Sunan Pandanaran, Sunan Sendang Duwur, Syeikh Siti Jenar, Kyai Saleh Darat, Kyai Musyaffa Kaliwungu, Habib Abu Bakar As-Saqqaf Gresik, Syeikh Kholil Bangkalan dll... 

Aku tidur malam hari menginap di Masjid dan selesai sholat Subuh melanjutkan perjalanan ziarah bahkan tidak sedikit orang di jalan yang menawarkan naik mobilnya di sepanjang perjalanan selama ziarah berlangsung. Aku tetap berjalan kaki pulang pergi ziarah wali songo. selama 2 bulan lebih 10 hari dengan menghabiskan sekitar 7 sandal jepit pulang pergi dengan selamat sampai ketujuan...

Selama napak tilas aku tidak merasa kekurangan uang namun sebaliknya uang seadanya yang ku bawa itu terus saja bertambah banyak tidak habis tiap kali dipakai berbelanja baik itu makanan maupun minuman di warung atau pertokoan. Tiap kali singgah berbelanja makanan minuman banyak di perhatikan orang, selalu ada saja yang mereka pertanyakan mengenai arah tujuan terus memberi uang dan seterusnya, ada yang memberi sejumlah roti, indomie sampai tas yang ku bawa sudah tidak muat lagi, barang bawaan pun jadi bertambah berat tuk di bawa selama masa perjalanan ku bagikan lagi makanan minuman itu kepada para musafir tuk meringankan beban...  Seringkali selama berbelanja pemilik warung dan pertokoan minta di do'akan buat kelancaran usahanya dll...

Selama napak tilas banyak ku dengar masa ini ada 4 Wali Mursyid yang Masyhur dan banyak orang menyebutnya Sulthan Awlia di masa ini di antaranya adalah Alm. KH. Zaini Abdul Ghani Al-Aidrus ( Guru Sekumpul, Martapura Kalimantan Selatan ), Syaikh Nazim Adil Haqqani Al-Qubrusi An-Naqsbandi dari Cyprus Turkey, Al-Habib Abdul Qodir As-Saqqof dari Jeddah dan yang terakhir Sayyidi Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin ( Abah Anom, Suryalaya Tasikmalaya ). Sulthan Awlia hanya satu di setiap masa tidak mungkin lebih dialah Wali Mursyid yang paling taqwa pada zamannya.


 




Aku bersama Ustaz Jufri bareng bersama anak istrinya Pamitan ke Abah Anom mau Pulang Ke Pontianak di tengah kondisi padatnya arus mudik Lebaran 2007. Sebelum berangkat Ustaz Jufri sempat telpon ke Pengurus tiket Tanjung Priok dapat kabar masih ada tiket namun sesampainya di Pelabuhan Tanjung Priok kaget bukan kepalang tidak kedapatan tiket lantaran tiket keburu habis di beli orang sedangkan barang yang dibawa banyak. Mau balik lagi ke Tasikmalaya tidak mungkin ongkos pas-pasan. Mereka ikhtiar mohon bantuan para petugas kapal agar bisa bantu mereka dapat naik dan ikut berangkat seperti yang lain pembayaran langsung di atas kapal, namun usahanya selalu sia-sia permintaan di tolak mentah-mentah tanpa belas kasih. Ketatnya pengawasan Kapal lantaran belum lama ada kasus tenggelamnya kapal Laut Senopati yang banyak memakan korban Jiwa, Kapal membawa angkutan melebihi kapasitas. ustaz jufri dan isterinya menangis sedih... anaknya yang masih bayi menangis keras. Aku duduk termenung hati perih, hati sakit. Hari sudah larut malam kapal siap mau berangkat tangga kapal sudah tertutup rapat....

Pakaian ku mulai basah di guyur Hujan, fikiran panik. pertanyaan besar datang dalam jiwa ini siapa guru ku... tidak sedikit Ulama meyakininya sebagai hamba Allah yang paling taqwa pada zamannya Sulthan Awlia pada masanya. Namun di lain pihak pun punya keyakinan yang sama mengenai Gurunya. Ada begitu banyak perbedaan dalam hal ini... ada yang meyakini sesungguhnya Mursyid dari Thoriqoh Alawiyah Al Habib Abdul Qodir As-Saqqof di Jeddah dialah sulthan Awlia pada masanya, di Thariqah Naqsbandi Haqqani pun punya keyakinan Syaikh Muhammad Nazim Adil  Haqqani adalah sulthan awlia di zamannya. Keyakinan dari jama'ah Thariqah Sammaniyyah yang meyakini Tuan Guru Sekumpul Syaikh Ahmad Zaini Abdul Ghani Al Aidrus Martapura pamungkasnya para wali, gauts zaman, al wali qutbil Akwan muncul tiap 200 tahun sekali, karamahnya begitu nyata...

Terlontar ucapan dari ku kepada Ustaz Jufri, Jika benar Pangersa Abah Anom itu Sulthan Awlia zaman ini pasti bisa masuk dengan kehendak Allah melalui perantaran berkah karomahnya….. jika kapal itu meninggalkan kita, ku berjanji tidak akan pernah mengakui Pangersa Abah Anom sebagai Sulthan Awlia walaupun seluruh ulama mengakuinya... ku hanya mengakuinya sebagai Wali Mursyid saja….. ku berdoa kepada Allah agar di tunjukkan siapa sebenarnya Pangersa Abah Anom jadikan aku sebagai salah satu saksi hidupnya... benarkah keyakinan orang-orang yang meyakininya sebagai Sulthan Awlia sejak tahun 2001 silam ??? bukan kah beliau hidup semasa dengan 3 Wali Mursyid Agung dari negeri yang jauh di sana namanya begitu harum masyhurnya di segala penjuru negeri... Dalam suatu pemerintahan hanya ada 1 raja, tidak mungkin ada 4 raja dalam satu pemerintahan pada waktu dan masa yang sama.
 

Tunjukkanlah pada hamba yang lemah ini satu isyarat saja tuk bisa mengenalnya yakin seyakin-yakinnya tanpa syak wasangka bahwa beliau Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin sesungguhnya SULTHAN AWLIA MASA INI……Subhanallah beberapa menit kemudian dengan kehendak Allah SWT melalui perantaraan barokah karomah Pangersa Abah Anom beberapa menit kemudian kami di panggil para Petugas kapal secepatnya masuk ke dalam kapal lewat lantai  bawah karena tangga di atas kapal sudah di tutup rapat, untuk alas kasur dan makan di antar oleh para petugas kapal, kami bayar tiket kapal laut dengan harga yang terjangkau, tidak kena pemeriksaan karena memang dapat perlindungan langsung dari sebagian petugas kapal... mereka sangat menghormati kami hingga sampai tujuan dengan selamat...




Aku pernah bermimpi yang sangat aneh... 


Suatu malam ku bermimpi ku lihat di hadapan ku sebuah benteng yang menjulang tinggi terbentang luas dari timur hingga barat...  ku lihat sebagiannya kokoh namun sebagiannya lagi rapuh...  lalu ku panjat ku perbaiki bagian benteng yang rapuh itu satu persatu... mendadak turun badai besar menghantam hingga membuat ku oleng... ku lihat dari arah kejauhan sosok orang berjubah putih berseru : teruskan, terus, sedikit lagi... namun anehnya ku tahu beliau adalah Rasulullah Saw ) ... selesai ku perbaiki benteng jadi kokoh seluruhnya... beliau pun berkata ; engkaulah keturunanku... sungguh engkau adalah keturunanku....








Di Malam yang lain ku bermimpi bertemu Pangersa Abah Anom... dalam mimpi itu beliau sedang berjalan-jalan dengan kursi rodanya mendadak ibu jari kaki kanan beliau tersandung sebuah batu besar beliau pun merasakan sesuatu di ibu jari kaki kanannya sakit kemudian rasa itu naik berpindah dan terkumpul seluruhnya di telunjuk jari kanannya yang terus membengkak seperti sebuah bisul yang telah masak beliau terus komat kamit seperti membaca sesuatu kemudian pecahlah bisul itu, dari telunjuk jari kanan beliau yang mulia itu tersembur darah merah segar jatuh ke tanah. langsung ku rebut darah itu di tanah tanpa tersisa sedikitpun dan seluruhnya sudah terkumpul di tangan kanan ku lalu ku tempelkan darah segar beliau itu ke jidat ku sambil berucap berkah karomah Pangersa Abah Anom.... aku terbangun dari tidur ku waktu menunjukkan sepertiga akhir malam.



Di lain waktu menjelang 4 bulan sebelum wafatnya Wali Mursyid Thariqah Sammaniyah Tuan Guru Sekumpul Sayyidi Ahmad Zaini Abdul Ghoni Al 'Aidrus Martapura Kalimantan Selatan. Ku Berjumpa beliau dalam mimpi... sebenarnya ku juga belum pernah jumpa, ku hanya tahu selama ini hanya dari fotonya... Dalam mimpi itu  ku datang silaturahmi ke Madhrasahnya... Di sana telah berkumpul para ulama dan habaib semuanya berjubah putih duduk mengitari beliau, wajah beliau pucat sangat kelelahan sepertinya hendak pergi jauh... ku duduk paling belakang ku lihat beliau pakai jubah putih tanpa kopiah tanpa sorban. Tuan Guru sekumpul seperti menyampaikan wasiat terakhir beliau kepada semua hadirin. setelah itu hadirin pun bubar pamitan pulang ke tempatnya masing-masing... Tuan Guru Sekumpul masuk kembali ke kamar pribadinya. Tinggal ku sendiri di ruang itu... dalam hati ku mengadu '' Ya Allah hamba yang lemah ini datang dari jauh ingin bersilaturahmi kepada orang yang Engkau kasihi namun beliau masuk ke dalam kamarnya ''. Mendadak beliau keluar dari kamarnya memakai kopiah dan bersorban putih.... beliau duduk tepat berada di depan ku lalu berkata ' ada hajat apa ananda kemari ?? ku jawab '' ingin menimba ilmu kepada Tuan Guru apapun itu ''. Tuan Guru Sekumpul menunduk tawajjuh kemudian beliau membuka mulutnya keluarlah dari mulut nya sekepal nasi ketan dan beliau letakkan di hadapan ku. Tuan Guru meminta ku tuk memakan nya hanya saja ku sedikit enggan ku lihat nasi ketan itu bercampur dengan air liurnya... namun karena itu perintah ku makan juga nasi ketan itu sampai habis. Beliau menangis dan menengadahkan tangannya ke langit memanjatkan doa dan dalam doanya beliau selalu mengucap berkah karamah Awlia Allah.... berkah karamah Awlia Allah... ku terbangun dari tidur baru ku sadar aku bermimpi... ku lihat jam waktu telah menunjukkan jam 2 malam...


Wallahu alam... 

Tepat 4 bulan kemudian ku terima berita dari teman ku dia dapat kiriman sms dari teman yang juga ku kenal sedang berada di kampung halaman di Martapura, Tuan Guru Sekumpul baru saja meninggal dunia dan minta doa dari Abah Anom... saat itu saya bersama teman sedang ngobrol dengan cucu Abah Anom di halaman Madrasah.... cucunya Abah Anom juga membaca sms teman ku kemudian menyampaikan berita duka ke Pangersa Abah Anom dan Abah langsung berdoa saat itu juga...