Minggu, 06 November 2011

Generasi Terbaik Umat






Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


خَيْرَ أُمَّتِـي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” ( Shahih Al-Bukhari, no. 3650 )

Al Imam Ahmad bin Hanbal ( wafat 241 H ) menjelaskan : 
sebaik-baik umat setelah Nabi sallallahu 'alaihi wasallam adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali radhiallahu 'anhum serta lainnya yang beliau sebutkan, beliau berkata : "Kemudian manusia yang paling mulia setelah sahabat-sahabat tersebut -yang telah beliau sebutkan- adalah para sahabat Rasulullah ( secara umum ). Yaitu generasi yang Rasulullah diutus di dalamnya. Setiap orang yang menemani Beliau sallallahu 'alaihi wasallam, baik setahun, sebulan, sesaat saja, atau sekadar melihat Beliau [1] maka dia termasuk sahabat Nabi. Dia menjadi sahabat Nabi sesuai kadarnya menemani Beliau. Dia memiliki keterdepanan, mendengar sabda Nabi, dan melihat Beliau dengan mata kepalanya. Maka sahabat yang paling rendah tingkatannya, dia lebih baik daripada generasi yang tidak melihat Beliau, meskipun generasi tersebut menghadap Allah 'azza wajalla dengan membawa seluruh amal. Mereka adalah para sahabat yang menemani Nabi sallallahu 'alaihi wasallam, melihatnya, dan mendengar sabdanya. Dan siapa saja yang melihat Beliau walau sesaat dan beriman kepada Beliau, maka dia lebih baik dari generasi tabi'in [2] meskipun mereka mengamalkan seluruh amal kebajikan, hal itu dikarenakan ia adalah seorang sahabat Nabi." 
( Ushulus Sunnah hal.5-6 no.27 )

Al Imam Asy Syafi'i (wafat tahun 204 H) berkata : "Sesungguhnya Allah ta'ala telah memuji sahabat-sahabat Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam baik di dalam Al Qur'an, Taurat, maupun Injil. Telah ditetapkan oleh lisan Rasuullah kemuliaan mereka yang tidak dimiliki orang-orang setelah mereka. Allah telah merahmati dan menyampaikan kabar gembira bagi mereka dengan memberikan kepada mereka derajat tertinggi di kalangan shiddiqin, syuhada', dan sholihin". 
( Manaqib asy Syafi' 1/442-443, karya al Imam al Baihaqi ; Manaqib ar Rozi 136 )
 
Al Imam Ibnu Qudamah al Maqdisi ( wafat 620 H ) berkata : "(Diantara aqidah ahlus sunnah ialah) meyakini kemuliaan dan keterdepanan para sahabat ( dalam kebaikan )." 
( Lum'atul I'tiqod hal.18 )

Beliau juga berkata : "Para sahabat RasuluLlah adalah sebaik-baik sahabat seluruh Nabi yang ada.".  ( Lum'atul I'tiqod hal.17 )


   مَثَلُ أُمَّتِي مِثْلُ الْمَطَرِ لَا يُدْرَي أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ

"Perumpamaan ummatku seperti halnya hujan, tidak diketahui manakah yang lebih baik, awalnya atau akhirnya."
( HR. Tirmidzi 2869, Ahmad dalam Musnadnya )


إِنَّ أُمَّتَكُمْ هذه جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا و سَيُصِيْبُ آخِرَهَا بَلَاءٌ وَ أُمُوْرٌ تُنْكِرُوْنَهَا

"Sesungguhnya umat kalian ini dijadikan 'afiyahnya / keselamatan dan kebaikannya pada generasi awalnya dan generasi akhirnya akan ditimpa dgn berbagai ujian dan bala serta bebagai perkara yg kalian akan mengingkarinya" ( HR. Muslim )


خَيْرُ أُمَّتِي ، القَرْنُ الَّذِي بُعِثْتُ فِيْهِ

"Sebaik-baik umatku adalah generasi - yg hidup - ketika aku diutus."
( HR. Muslim,  Abu Dawud,  Tirmidzi,  Ahmad )


خِيَارُ أُمَّتِي أَوَّلُهَا وَ آخِرُهَا ،

"Sebaik-baik umatku adalah yang pertama dan yang terakhir, " ( HR. Al-Haitsami dalam Majma' 'Az-Zawaid )



إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ، فَذَكَرَ الدُّخَانَ، وَالدَّجَّالَ، وَالدَّابَّةَ، وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ، وَثَلاَثَةَ خُسُوفٍ: خَسْفٌ بِالْـمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْـمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ

Sesungguhnya tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian melihat sebelumnya sepuluh tanda. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan: Muncul Dajjal, keluar binatang Dabbah, matahari terbit dari barat, Isa bin Maryam turun (ke bumi), Ya`juj dan Ma`juj, tiga khusuf2, yaitu di timur, barat, dan jazirah Arab. Lantas akhir semua itu muncul api yang keluar dari Yaman yang menghalau manusia ke tempat berkumpul mereka.” 
( Shahih Muslim, Kitabu Al-Fitan wa Asyrathu As-Sa’ah )


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَهْبَطَ اللَّهُ إِلَى الأَرْضِ مُنْذُ خَلَقَ آدَمَ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ فِتْنَةً أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ (الطبراني) 

“Allah tidak menurunkan ke muka bumi -sejak penciptaan Nabi Adam Alaihis Salam hingga hari Kiamat- fitnah yang lebih dahsyat dari fitnah Dajjal.” 
(HR Thabrani 1672)  

Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmin dan mu'minat baik mengenai dirinya, anaknya, maupun hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam keadaan telah bersih dari dosa." 
(H.R. Tirmidzi)

Tingkat berat ringannya ujian disesuaikan dengan kedudukan manusia itu sendiri. orang yang paling berat menerima ujian adalah Para Nabi. kemudian orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka berurutan secara bertingkat. orang diuji menurut tingkat ketaatan kepada agamanya. jika ia sangat kukuh kuat dalam agamanya, diuji pula oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala sesuai dengan tingkat ketaatan kepada agamanya. demikian bala dan ujian itu senantiasa ditimpakan kepada seorang hamba-Nya sampai ia dibiarkan berjalan di muka bumi tanpa dosa apapun." 
(H.R. Tirmidzi)

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” 
[QS. Al-Hadiid (57): 22-23]


تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ (أحمد)

"Kalian akan mengalami babak Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak kekhalifahan mengikuti manhaj Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak Raja-raja yang menggigit,selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak para penguasa yang memaksakan kehendak selama masa yang Allah kehendaki, kemudian kalian akan mengalami babak KEKHALIFAHAN mengikuti MANHAJ KENABIAN, kemudian Nabi diam." 
( HR Ahmad )

الَّذِيْنَ يُحْيُوْنَ مَا أَمَاتَ النَّاسُ مِنْ سُنَّتِي
 

"Mereka adalah orang-orang yang menghidupkan sunnahku yg telah mati ( sunnah yang telah ditinggalkan oleh manusia )." ( HR. Tirmidzi )


مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ

"Di antara umatku yang paling mencintaiku adalah, orang-orang yang hidup setelahku. Salah seorang dari mereka sangat ingin melihatku, walaupun menebus dengan keluarga dan harta". 

( HR Muslim, kitab al Jannah wa Shifat Na’imiha wa Ahliha, Bab Fiman Yawaddu Ru’yat an Nabi bi Ahlihi wa Malihi, no. 5060 )


وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ فِي يَدِهِ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أَحَدِكُمْ يَوْمٌ وَلَا يَرَانِي ثُمَّ لَأَنْ يَرَانِي أَحَبُّ إِلَيْهِ مَنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ

"Demi Dzat, yang jiwa Muhammad di tanganNya (Allah). Pasti akan datang pada salah seorang dari kalian satu waktu, dan ia tidak melihatku, kemudian melihat aku lebih ia cintai dari keluarga dan hartanya".
( HR Muslim, kitab al Fadhail, Bab Fadhlu an Nazhar ila Nabi n wa Tamanihi, no. 4359 )


Rasulullah Saw bersabda,  
“Apakah kalian pernah mendengar suatu kota yang terletak sebagiannya di darat dan sebagiannya di laut?  
Mereka (para sahabat) menjawab: Pernah wahai Rasulullah. Beliau Saw bersabda: Tidak terjadi hari kiamat, sehingga ia diserang oleh 70.000 orang dari Bani Ishaq. 
Ketika mereka telah sampai di sana, maka mereka pun memasukinya. 
Mereka tidaklah berperang dengan senjata dan tidak melepaskan satu panah pun. 
Mereka hanya berkata Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, maka jatuhlah salah satu bagian dari kota itu. 
Berkata Tsaur (perawi hadits): Saya tidak tahu kecuali hal ini ; hanya dikatakan oleh pasukan yang berada di laut. 
Kemudian mereka berkata yang kedua kalinya Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, maka jatuh pula sebagian yang lain (darat). 
Kemudian mereka berkata lagi Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, maka terbukalah semua bagian kota itu. Lalu mereka pun memasukinya. 
Ketika mereka sedang membagi-bagikan harta rampasan perang, tiba-tiba datanglah seseorang (setan) seraya berteriak : Sesungguhnya dajjal telah keluar. Kemudian mereka meninggalkan segala sesuatu dan kembali.”   
( HR. Muslim, Kitabul Fitan wa Asyratus Sa’ah)


Bani Ishaq adalah keturunan Al Aish bin Ishaq bin Ibrahim as. Pendapat ini dipilih oleh Al Hafidz Ibnu Katsir. ( An Nihayah fil Fitan Wal Malahim ). 

Keturunan Aish menyebar di wilayah Khurasan Afghanistan, Pakistan, Kashmir, Iraq dan Iran. Imam Nawawi dalam syarahnya tentang 70.000 pasukan Bani Ishaq berpendapat bahwa, “Penduduk ( Farisi ) Persia adalah orang-orang yang dimaksud dengan keturunan Ishaq.

Rasulullah (saw) menyanjung tentara Muslim yang menaklukan Konstantinopel, beliau juga menyanjung Amir yang memimpin tentara itu : “Ketahuilah bahwa kalian ( Muslim ) akan menaklukan Konstantinople. Betapa hebatnya pemimpin kalian, betapa hebatnya pasukan itu!” 
( Musnad, Imam Ahmad )

Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW ditanya oleh para sahabat RA,  
“Apakah ada orang yang beriman kepadamu sedangkan mereka tidak pernah melihatmu dan membenarkan ajaranmu sedangkan mereka tidak pernah melihatmu?” Rasulullah SAW menjawab, “Mereka itu adalah IKHWANKU dan mereka bersama-samaku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.” ( diulang sampai 3 kali ).   
( HR. Muslim )

“Ketika Allah telah mengutus Isa al Masih Putra Maryam, maka turunlah ia di menara putih di sebelah timur Damsyiq ( Damaskus ) dengan mengenakan dua buah pakaian yang dicelup dengan waras dan za’faran, dan kedua telapak tangannya diletakkannya di sayap dua Malaikat; bila ia menundukkan kepala maka menurunlah rambutnya, dan jika diangkatnya kelihatan landai seperti mutiara. Maka tidak ada orang kafirpun yang mencium nafasnya kecuali pasti meninggal dunia, padahal nafasnya itu sejauh mata memandang. Lalu Nabi Isa Putra Maryam mencari Dajjal hingga menjumpainya di pintu Lud, lantas dibunuhnya Dajjal. Kemudian Nabi Isa datang kepada suatu KAUM YANG TELAH DI LINDUNGI ALLAH dari Dajjal, lalu Nabi Isa MENGUSAP WAJAH MEREKA dan MEMBERITAHUKAN KEPADA MEREKA TENTANG DERAJAT MEREKA DI SURGA.”
( HR. Shahih Muslim, Kita Al-Fitan wa Asyrathis Sa’ah, Bab Dzikr Ad-Dajjal 18 : 67 - 68 )



Mengenai DAJJAL yg teriwayatkan dalam nash hadits adalah : seorang lelaki, berkulit kemerahan, berambut sangat keriting, buta mata kanannya, dan didahinya tertulis "KAFIR", demikian diriwayatkan pada : Shahih Muslim hadits no.166, 169 dan masih banyak lagi riwayat shahih serupa.

Dajjal itu adalah manusia pembawa kedustaan dan memiliki kekuatan batin yg dapat menurunkan hujan, membuat subur atau keringnya tanah, menghidupkan yg mati dg penipuan sihirnya, dan ia mengaku tuhan. Maka kita memahami bahwa dajjal bukanlah makhluk aneh, atau dikiaskan sebagai negara adikuasa, atau kekuatan yahudi misalnya, namun dajjal adalah seorang makhluk berbentuk manusia dg sifat2 diatas.










“Tidak ada satu orang kafir pun yang masih hidup, semuanya terbunuh. Lalu, Isa berhasil menyusul Dajjal di Pintu Lod dan membunuhnya. Lalu, beberapa kaum Muslimin diselamatkan Allah ke hadapan Nabi Isa Putra Maryam. Ia MENGUSAP WAJAH MEREKA dan MEMBERITAHUKAN KEPADA MEREKA TENTANG KEDUDUKAN MEREKA DI SURGA.”
(HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, dan Hakim)

Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Hadith al-Nabawi, Lod atau Gerbang Lod adalah kota yang terletak di dekat Baitul Maqdis atau Elia di Palestina dekat Ramalah. “Dahulu, rombongan kafilah dari Syam (Suriah) yang menuju Mesir singgah di kota ini, begitu juga sebaliknya,” ujar Dr Syauqi.







( Hadits Shohiih Riwayat Imam Muslim no. 2937 ) dari An Nuwwas bin Sam’an Ra, beliau berkata bahwa Rasul Saw bersabda :  
Kemudian Nabi Isa Putra Maryam mendatangi suatu kaum yang dilindungi oleh Allah dari Dajjal, lalu Nabi Isa Putra Maryam mengusap wajah mereka dan memberitahukan kepada mereka mengenai DERAJAT MEREKA DI SURGA. Ketika ‘Nabi Isa Putra Maryam dalam keadaan begitu, Allah mewahyukan kepadanya, “Sesungguhnya Aku telah MENGELUARKAN HAMBA-HAMBA-Ku yang TIDAK TERKALAHKAN OLEH SIAPAPUN. Karena itu SELAMATKANLAH HAMBA-HAMBA-KU YANG SHOLEH KE BUKIT. ”Kemudian Allah mengeluarkan YA'JUJ DAN MA'JUJ (mereka turun ke segala penjuru dari tempat yang tinggi (Al Anbiyaa’ ayat 96). Kelompok mereka yang pertama kali melewati telaga Thabariyyah / Thiber, kemudian mereka meminum airnya hingga habis. Kelompok mereka yang akhir lewat pula, lalu mereka mengatakan, “Sungguh di tempat ini dulu ada air.”

NABI ISA BERSAMA PARA SAHABATNYA TERKEPUNG, sehingga pada saat itu sebuah kepala sapi lebih berharga bagi mereka daripada uang seratus dinar sekarang ini. NABI ISA BERSAMA PARA SAHABATNYA BERDO'A AGAR ALLAH MENGHANCURKAN YA'JUJ DAN MA'JUJ beserta pengikutnya. Lalu Allah menimpakan kepada mereka PENYAKIT HIDUNG SEPERTI YANG MELANDA HEWAN, sehingga MEREKA MATI SEMUANYA.

Kemudian
NABI ISA dan PARA SAHABATNYA tiba di suatu tempat di bumi. MEREKA TIDAKLAH MENDAPATI SEJENGKAL TANAH MELAINKAN PENUH DENGAN BANGKAI BUSUK, maka Nabi ‘Isa dan para pengikutnya berdo’a kepada Allah Sehingga Allah mengutus BURUNG-BURUNG SEBESAR PUNUK ONTA YANG MEMBAWA BANGKAI-BANGKAI MANUSIA TERSEBUT, untuk dibuang di tempat yang dikehendaki oleh Allah.

Kemudian Allah menurunkan hujan yang menyirami setiap rumah di kota dan di desa, sehingga bumi menjadi bersih setelah tersiram hujan.